Lintas Berita
Menunggu Sambungan...

PENTINGNYA NASEHAT DALAM MENGGAPAI USWAH ROSUL Shollallhu ‘Alaihi Wa Sallam

1.    Akhlaq Dan Uswah Nabi SAW.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ  (الاحزاب:21)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri tauladan  yang baik (uswatun hasanah) bagi kalian”. (QS. al Ahzab: 21)
Akhlaq atau yang sering kita dengar dengan istilah etika merupakan sesuatu yang sangat vital dalam pembentukan sebuah karakter, sehingga seorang individu bisa terkategorikan sebagai seorang beretika (bermoral) atau seorang yang tak beretika (amoral).

    Seringkali kita mendengar ketika ada seseorang yang mau berjalan di depan kita, acap kali mereka mengucapkan “Permisi Pak, Nuwun sewu, Pareng Pak, Amit” atau ketika sedang berpapasan dengan teman, sering kali kita anggukkan kepala atau menyapa dengan salam pertanda sapaan padanya. Ini semua adalah sebagian kecil dari simbol-simbol dari cermin kesopanan atau etika yang berlaku di kalangan masyrakat Indonesia khususnya. Tapi Apa sebenarnya Akhlaq itu?
Akhlaq merupakan form (bentuk) Jamak  dari kata Khuluq yang dalam kamus besar al Munawwir diartikan sebagai tabi’at dan budi pekerti. Dari sini bisa kita fahami, akhlaq merupakan perwatakan yang melekat pada diri manusia yang di dalamnya terkandung budi pekerti atau tidak.
    Syekh Umar Ahmad Baraja dalam kitabnya mendefinisikan akhlaq sebagai sampel atau teladan dari keadaan seseorang yang mengakar kuat dalam dirinya sehingga memunculkan tindakan-tindakan yang sangat mudah dengan tanpa didasari pemikiran dan pertimbangan. Ketika keadan ini membawa dampak yang positif maka akhlaq Karimah yang muncul. Begitu sebaliknya, ketika keadaan ini mendorong pada hal yang negatif maka akan lahirlah akhlak tertcela.
    1400 tahun silam Rosulullah SAW. merintis jalan bagi terbukanya peradaban manusia dari dimensi yang sangat gelap dan amoral menuju rel yang sangat mewahana, dipenuhi gemerlap ilmu agama dan budaya yang menjunjung tinggi terhadap moral manusia . Tidak mudah bagi Rosulullah SAW. merubah fragma masyarakat Arab yang dipenuhi kejahiliyahan, kenistaan mulai dari membunuh anak perempuan mereka sendiri sampai menjadikan kepalan tanah (baca; berhala) sebagai tuhan.
Lambat tapi pasti Rosulullah SAW. yang masyhur dengan etika yang sangat terpuji menemui jalan atau arah yang sangat baik. Hal ini ditandai dengan sedikit demi sedikit para pemuka Jahiliyah luluh oleh beliau hingga akhirnya jalan Islam semakin menemukan titik terang kala beliau menaklukkan kota Makkah yang ditandai dengan terjadinya peristiwa Fathu Makkah dan membuat pintu kebebasan untuk memeluk agama Islam semakin terbuka  lebar.
Islam sebagai agama yang dibawa oleh Rosulullah SAW. pada hakikatnya merupakan agama yang tidak menuntut berlebih terhadap pemeluknya. Islam tidak menyuruh kita beruang banyak, berlimpah harta (ngga' minta yang neko neko). Lho kenapa???
Kita ketahui bersama fakta yang ada, terutusnya Rosulullah SAW. semata mata hanya sebagai penyempurna akhlaq dan sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Kita bisa pahami bersama, sebetulnya keberadaan Beliau merupakan sebagai contoh bagi umatNya untuk bisa berlaku baik dalam kehidupanya. Allah SWT. berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ    القلم:4


“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”
. (QS. al Qolam: 4).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ  (الاحزاب:21)                         

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah suri tauladan  yang baik (Uswatun Hasanah) bagi kalian”. (QS. al Ahzab: 21).   
Dalam Hadits pun Nabi bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ (أخرجه أحمد والحا كم والبيهقي)

“Sesungguhya Aku (Rosulullah) diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq”. (HR. Ahmad, al Hakim dan al Baihaqi)
Dan kalau kita mau teliti, sebetulnya kesuksesan yang Beliau gapai ini tidaklah lepas dari akhlaq terpuji yang sangat  fenomenal. Kita bisa lihat bagaimana cemoohan dari para penentang Beliau, justru malah Beliau balas dengan senyum manis. Ketika kaum Tho’if melempari dan mengusir Beliau, namun balasannya adalah doa mohon hidayah yang terpanjat untuk mereka. Subhanallah…..itulah Beliau. Jadi, sekali lagi kalau kita melihat ini jelas misi Islam sebetulnya ialah menjadikan umat manusia beradab dan beretika dalam membangun Khilafah yang ada di muka bumi ini.

2.    Islam Sebagai Tuntunan Moral

Secara simbolik, Islam bukanlah agama yang keras, memaksa pemeluk agama lain untuk masuk kedalamnya juga sangat menjunjung tinggi betul moral dan hak manusia untuk memeluk agama yang dianut dan diyakini benar tidak mengekang kebebasan untuk beragama. Allah berfirman:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ  (البقره: 256)

“Tidak ada paksaan dalam agama”
. (QS. al Baqoroh (2): 256)
    Ayat di atas secara eksplisit memberikan signal betapa tingginya toleransi Islam terhadap hak-hak manusia dalam beragama walau hakikatnya agama yang mereka peluk merupakan agama yang salah dan akan menyengsarakan mereka sendiri di kehidupan yang abadi nanti.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (ال عمران: 85)

“Dan barang siapa mencari selain Islam (dijadikan) sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat tergolong orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imron (3): 85)
    Dan dalam perjalanannya sampai sekarang, umat Islam yang notabenenya sebagai cermin dalam mengatur manusia (baca; umat lainnya) untuk beruswah hasanah kini telah mengalami kemunduran yang sangat signifikan. Hal ini tidak lepas dari asimilasi (penyesuaian atau penyelarasan) umat Islam terhadap trend-trend dunia barat yang secara rel syar'i bertentangan. Namun tetap saja mereka ambil dan berkilah kalau tidak mengikuti trend semacam itu mereka ketinggalan zaman, kuno, katrok sehinga hal ini membuat mereka terkucilkan dari dunia pergaulan mereka.
    Mereka tidak menyadari bahwa trend-trend itu merupakan salah satu bentuk manipulasi dari orang-orang anti Islam yang menginginkan kehancuran agama Allah secara bertahap. Hal ini dilakukan oleh mereka karena untuk menghancurkan Islam secara total sangat sulit. Sehingga sebisa mungkin mereka tusuk Islam walau dengan cara pelan tapi pasti, salah satunya adalah dengan menyusupkan budaya, trend mereka yang amoral ke dalam sendi-sendi Islam yang mana hal ini merupakan bagian dari invasi intelektual (Ghozwu al Fikri). Benar apa yang difirmankan Allah SWT.:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ (البقرة:120)

“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al Baqoroh (2): 120)
    Dari sini akan timbul sifat arogansi (kardi: jawa) dari masing-masing individu atau kelompok muslim yang bisa menyebabkan terhadap perpecahan. Mereka bersaing siapa yang paling gaul dari mereka. Perilaku moral mereka tercerai beraikan oleh karena semacam trend yang esensinya tidaklah penting. Padahal kalau kita mau bersifat fleksibel niscaya tidak akan terjerumus pada hal-hal tersebut. Dikarenakan apa? Rel kita sudah jelas.

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ    آل عمران: 32

“Katakanlah: ‘Taatlah  kepada Allah dan Rosul-Nya, jika kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imron (3): 32)
    Kurangnya intensitas ketaatan kita pada Rosulullah SAW. sebetulnya menjadi kunci kelemahan kita. Padahal kita ketahui bersama, apa sih inti ajaran yang Beliau bawa? Jelas tuntunan prilaku yang baik bukan yang lain.

3.    Pentingnya Nasehat

    Di sisi lain ketika serbuan budaya-budaya barat membludak dan membanjiri trend kalangan masyarakat muslim, mereka menganggap itu hal yang biasa, remeh dan tidak terlalu berpengaruh. Sikap acuh dan kurangnya sinergitas atau saling gotong royong dalam saling mengkontrol sebagai sesama muslim inilah yang sebetulnya menjadikan titik balik kemerosotan prilaku moral kita. Allah berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ     العصر: 3

“Dan mereka saling wasiat dengan hak (kebenaran) dan saling berwasiat dengan sabar”. (QS. al ‘Ashri: 3)
    Bukankah jelas bahwa ayat di atas merupakan tuntutan bagi kita untuk bisa saling berkomunikasi, tukar pikiran, curhat dalam urusan yang Haq dan urusan-urusan yang bersifat membangun kebaikan untuk sesama muslim.
    Sekali lagi, kurang peduli, sikap acuh serta kurangnya sinergi untuk saling menasihati kita terhadap sesama muslim tidaklah boleh terus kita biarkan.
    Nasihat merupakan tuntutan agama yang dianjurkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Ia merupakan salah satu hal yang dibaiatkan oleh Nabi Muhammad kepada para sahabatNya. Jarir bin Abdillah menyatakan:

بَايَعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامَةِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ (رواه البخاري)

“Aku berbaiat kepada Rosulullah SAW. untuk menegakkan sholat dan menunaikan zakat serta memberikan nasehat kepada sesama muslim”. (HR. Bukhori)
    Dari statement Nabi yang menyebut nasehat bersama-sama dengan sholat dan zakat yang keduanya merupakan rukun Islam memberi indikasi betapa penting dan tingginya posisi nasehat di dalam agama kita. Sejalan dengan apa yang ada di atas, Tamim bin Aus ad Duri dalam riwayatnya menyatakan bahwa Nabi SAW. bersabda:

إِنَّمَا الدِّينُ النَّصِيحَةُ إِنَّمَا الدِّينُ النَّصِيحَةُ إِنَّمَا الدِّينُ النَّصِيحَةُ. فَقِيلَ : لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُؤْمِنِينَ وَعَامَّتِهِمْ. (أخرجه البيهقي ومسلم فى الصحيح من وجه آخر عن سفيان الثورى)

“Agama hanyalah nasehat, agama hanyalah nasehat, agama hanyalah nasehat. Lalu kami pun bertanya: “Bagi siapa ya Rosulullah? Beliau bersabda: “Bagi Allah, Kitab–KitabNya, Rosul-RosulNya, para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awamnya”. (HR. al Baihaqi dan Muslim dari jalur lain dari Sufyan ats Tsauri)
    Imam Ibnu al Jauzi Dalam Kasyfu al Musykil Min Hadits as Sohihain juz 4 halaman 219 mennyebutkan: “arti ‘Agama hanyalah nasehat’ yaitu nasehat merupakan praktik agama yang paling utama dan sempurna”.
    Adapun maksud nasehat bagi kaum muslimin secara universal berarti segala keinginan yang baik bagi mereka, termasuk di dalamnya mengajarkan kewajiban agama mereka dan menunjukkan kebenaran kepada mereka.
    Dengan demikian maka memberikan nasehat kepada sesama muslim hendaknya dilakukan dengan keinginan yang baik baginya, menunjukkan kebenaran kepadanya, tidak menipu atau berbasa-basi dalam urusan agama Allah SWT. Sehingga kalau sudah demikian, maka ikatan Ukhuwah Islamiyah dan nilai Uswah akan tetap terus terjaga dan tersebar kemana-mana.


    Oleh: Zainul Arifin

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Toggle Footer