Lintas Berita
Menunggu Sambungan...

WAWANCARA MAULID NABI MUHAMMAD SAW.


 Wawancara Kepada : Ust. Majid bin Abdullah Al Alyani Staf guru PP. Assunniyyah

Kita setiap tahun, setiap bulan, setiap minggu bahkan setiap hari melaksanakan maulid. Namun mungkin ada sebagian orang masih belum mengetahui apakah hakikat dari maulid itu. Sebenarnya apa esensi dari maulid itu ustadz?
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah dan sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW., keluarga beserta para sahabat beliau sekalian. Maha suci Engkau ya Allah. Tiada pengetahuan bagi kami melainkan apa yang telah Engkau ajarkan pada kami. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang maha mengetahui lagi maha bijaksana.

Hakikat dari maulid adalah suatu ungkapan kebahagiaan terhadap rahmat Allah SWT. yang telah dilimpahkan kepada kita. Hal ini tercermin melalui firmanNya: “Katakanlah ‘dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itu hendaknya mereka berbahagia. Dan itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.(QS. Yunus (10) : 58)” dan Allah juga berfirman: “Dan Aku tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta. (QS. Al Anbiya’(21) : 107)”.  Tidak disangsikan lagi bahwa yang dimaksud dengan rahmat pada ayat itu adalah Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang Islam untuk bahagia terhadap rahmat ini Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi Maulid adalah suatu ungkapan kebahagiaan terhadap rahmat Allah SWT.
Kita diperintah untuk bergembira terhadap rahmat dan sesuatu yang baik dan kita juga dilarang untuk susah terhadap musibah yakni jika tertimpa musibah kita dilarang untuk susah karenanya. Wallahu A’lam
Apakah ada perbedaan antara maulid dengan perayaan maulid itu sendiri?
Keduanya sama. Kata maulid juga diungkapkan untuk perayaan maulid. Kata maulid dalam bahasa Arab berarti tempat kelahiran (atau waktu kelahiran. Red.) dan dalam istilah para ulama dan pakar fikih maulid adalah sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. yang dibaca pada hari kelahiran Beliau. Namun kemudian hal itu dijadikan sebagai hari ulang tahun (‘Ied. Red.) yang dibaca pada setiap malam Jum’at atau malam Senin tergantung situasi dan kondisi dari masyarakat sekitar. Para masyarakat membaca sejarah Beliau sehingga kata maulid diungkapkan untuk hal tersebut. Itulah arti kata maulid yang berlaku pada era sekarang. Sehingga jika ada perkataan maulid maka yang dikehendaki adalah pembacaan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan perayaan maulid pada dasarnya sama dengan maulid namun perayaan maulid  terkadang diselenggarakan setahun sekali yang kadang dilaksanakan pada tanggal 12 Robi’ul Awal dan kadang pada 9 Robi’ul Awal sesuai dengan adanya perbedaan riwayat dalam menentuklan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Inilah yang dimaksud dengan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Wallahu A’lam
Di kalangan masyarakat maulid terkadang dilaksanakan setiap hari ada yang seminggu sekali, sebulan sekali dan ada yang setahun sekali. Tetapi tidak jarang sebagian dari mereka tidak mengetahui apakah maulid adalah sesuatu yang legal (resmi dari syara’. Red.) ataukah ilegal. Sebenarnya apa ada dalil yang mendasari tentang maulid?
Imam Ibnu Hajar - semoga Allah merahmati beliau dan semoga Allah memberi kita manfaat ilmunya - berkata: “Sesungguhnya aku menemukan suatu dasar dari maulid yakni hadits Nabi Muhammad SAW.”. Saya akan mendatangkan hadits yang dimaksud Imam Ibnu Hajar namun tidak secara sempurna. Beliau berkata: “Rosulullah SAW. pernah ditanya mengenai puasa hari Senin?” Beliau menjawab “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, aku diangkat menjadi nabi, aku hijrah, al Qur’an diturunkan padaku dan pada waktu itu aku meninggal”.
Sebenarnya Rosulullah cukup menjawab dari pertanyaan itu dengan simple yakni boleh atau tidak,  sunnah atau tidak sunnah. Tapi ternyata Rosulullah menyebutkan keutamaan-keutamaan hari itu (senin. Red.) yang mana ini merupakan bukti agar kita mengagungkan hari maulid dan berbahagia karenanya. Dan juga dalam bahasa Arab apabila ada seseorang bertanya sesuatu padamu “Apa pendapatmu mengenai hal ini?”, kalam dan akal Arab spontanitas menjawab demikian. Tetapi Rosulullah menjawab dengan jawaban lain sebagai warning bahwasanya sunnah melakukan suatu perayaan pada hari itu (hari senin atau hari maulid. Red.), sunnah mengagungkan hari itu dan lain sebagainya seperti apa yang ada dalam hadits. Ini adalah keterangan dari sudut pandang hadits.
Di sisi lain juga terdapat isyarat dari mayoritas ahli sufi bahwa maulid adalah ucapan sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. dan itu sudah disebutkan dalam al Qur’an al Karim. Allah SWT. telah menceritakan pada kita cerita nabi Yahya dan nabi Isa ‘Alaihimasalam.  Allah berfirman melalui lisan junjungan kita Nabi Yahya AS.:
وَسَلاَمٌ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوْتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا .
“Dan salam sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan (kembali) dalam keadaan hidup”. Allah juga berfirman melalui lisan Nabi Isa AS.:
وَالسَّلاَمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا . (مريم : 33)
“Dan salam sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan dalam keadaan hidup”(QS. Maryam (19) : 33).
Berpijak pada ayat-ayat tersebut para Mu’allif (pengarang kitab. Red.) dari kalangan sufi berkata bahwa dalam maulid kita mengatakan Assalaamu ‘Alaik, itu adalah nash (dalil. Red.) yang tertera dalam al Qur’an. Dengan demikian Allah menceritakan cerita-cerita para nabi-Nya di dalam al Qur’an, sehingga bagaimana mungkin kita tidak menceritakan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. kepada para insan. Dari sini sebagian ulama menggali dan  menyimpulkan bahwa maulid (kelahiran. Red.) dan cerita hidup para nabi ada dalam al Qur’an, maka nabi kita Nabi Muhammad SAW. adalah lebih utama (Min Babil Aula. Red.). Inilah yang bisa saya sampaikan secara spontanitas. Wallahu A’lam
            Ustadz, pertanyaan yang selanjutnya mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan maulid seperti berdiri di saat maulid, menabuh rebana, menebarkan dan mengusapkan minyak wangi pada tangan para hadirin. Mohon penjelasannya Ustadz?
            Untuk masalah berdiri saat maulid sungguh ulama telah menetapkan dan saya tidak akan menyebutkan nama-namanya. Di antaranya ada yang meredaksikan dengan menggunakan bentuk syi’ir dan beliau berkata bahwa jika waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. disebutkan maka disunnahkan bagi kita untuk berdiri atau bersimpuh di atas lutut. Hal ini merupakan tata krama atau etika karena semisal jika ada seseorang yang memiliki pangkat mulia di dunia atau ada orang dari kepemerintahan datang kepada kita maka tidak mungkin bagi orang yang berakal untuk tetap dalam posisi duduk, semua orang yang ada di majlis itu pasti berdiri untuk menghormat orang tadi. Dari sini para ahli sejarah menyimpulkan bahwasanya jika waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. disebutkan dan ini mengingatkan kita pada saat kelahiran Beliau dan pada saat keluarnya Beliau dari rahim sang Ibunda ke alam ini maka disunnahkan bagi kita untuk berdiri karena memuliakan pemilik kepribadian yang mulia ini Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.
            Namun Imam Ibnu Hajar RA. mengingkari perihal berdiri ini dan beliau berkata hal itu tidak disunnahkan. Kemudian saat beliau hadir di sebuah majlis maulid diketahui beliau ikut berdiri dengan para hadirin. Lantas ada seseorang yang memprotes beliau “Bagaimana engkau wahai Imam, engkau mengatakan tidak disunnahkan untuk berdiri sedangkan engkau berdiri bersama mereka?”. Beliau menjawab “Siapapun yang melihat apa yang aku lihat niscaya dia akan berdiri layaknya aku berdiri”, karena diceritakan pada saat itu beliau melihat Rosulullah SAW. hadir di majlis itu, maka beliau merasa malu jika masih tetap duduk .(sedangkan dalam sebuah kaedah disebutkan bahwa pekerjaan lebih diprioritaskan dari pada ucapan jika terjadi kontradiksi antara keduanya. Red.)
            Kemudian untuk masalah memukul atau menabuh rebana telah ada sebuah hadits bahwasanya pernah ada seseorang menabuh rebana di atas kepala Nabi dan Beliau pun tidak mengingkarinya. Yakni pernah suatu ketika ada seorang wanita muda bernadzar bahwa “Jika Rosulullah SAW. kembali dari peperangan dalam keadaan selamat maka dia akan menabuh rebana di atas kepala Beliau” ungkapnya. Maka tatkala para sahabat pulang dari perang dan Rosulullah kembali dalam keadaan selamat, wanita itupun mendatangi Beliau seraya berkata “Wahai Rosulullah, wahai Muhammad sesungguhnya aku bernadzar karena Allah..!” Beliau menjawab “Penuhilah nadzarmu itu..!!! Apa itu?” dia berkata “Sesungguhnya aku nadzar jika Allah mengembalikan Engkau ke Madinah dalam keadaan selamat maka aku akan menabuh rebana di atas kepala-Mu.” Rosulullah SAW. menjawab “Penuhi janjimu atau penuhilah nadzarmu itu…!!!” lantas dia berdiri dan dia pun menabuh rebana di atas kepala Rosulullah SAW. Andaikata hal ini tidak diperkenankan niscaya Beliau pasti mengingkarinya, dan dalam syariat Islam kita juga mengetahui bahwa nadzar untuk melakukan sesuatu yang berbau maksiat tidak diperkenankan. Maka dari itu sikap taslim atau tidak ada pengingkaran dari Rosul ini merupakan bukti bahwa menabuh rebana bukanlah sesuatu yang berbau maksiat.
            Dan juga diterangkan bahwa orang-orang Habasyah (Abyssinia. Red.) menabuh rebana dan menari-nari di depan masjid Nabawy, menurut sebagian riwayat di dalam masjid Nabawy. Mereka menari-nari dengan menggunakan tongkat pendek. Kemudian Sayyidah ‘Aisyah ingin melihat mereka, lantas Beliau melihat dari belakang Rosulullah SAW., kemudian Rosulullah SAW. bersabda pada Sayyidah ‘Aisyah “Cukup, cukup” (dengan nada rendah. Red.) kemudian Sayyidah ‘Aisyah menjawab “Diam, diam” dan pada kali ketiga Beliau bersabda “Cukup” (juga dengan nada rendah. Red.) dan Sayyidah ‘Aisyah pun kembali ke dalam rumah.
            Dua hadits ini adalah hadits yang bisa saya datangkan. Sebenarnya masih banyak hadits yang menjelaskan bahwa tidak ada masalah tentang rebana. Rosulullah SAW. sungguh memerintah untuk menggunakan rebana pada acara-acara pernikahan dan yang lainnya. Ini merupakan bukti atas kebolehan rebana dan banyak ulama yang menulis masalah ini seperti Imam Ibnu Hajar juga yang lainnya maka silahkan di-cek ulang pada kitab-kitab tersebut.
            Mengenai menebar dan mengusap tangan para hadirin dengan minyak wangi merupakan sesuatu yang tidak ada masalah karena menggunakan minyak wangi hukumnya sunnah pada waktu apapun tidak khusus pada waktu maulid saja. Jadi menggunakan wewangian hukumnya sunnah apalagi di saat dibacakannya perangai-perangai mulia Nabi Muhammad SAW. disunnahkan majlis dalam keadaan wangi dan para hadirin juga dalam keadaan harum, maka disunnahkan untuk memberi wewangian pada yang hadir. Menggunakan minyak wangi sunnah selagi tidak sampai pada kadar Isrof (melewati batas/pemborosan. Red.). Para pakar fikih mengatakan “Andaikan engkau membelanjakan sepertiga atau dua pertiga hartamu untuk minyak wangi maka engkau tidak dikatakan Mubadzdzir” (orang yang menghambur-hamburkan hartanya. Red). Maka pada saat-saat seperti itu disunnahkan untuk menebarkan wewangian pada yang hadir dengan semampunya. Tetapi hendaknya memilih wewangian atau parfum yang kondisional, tidak sembarang wewangian karena perwatakan manusia berbeda-beda, maka disunnahkan untuk memilih wewangian yang harum baunya supaya majlis yang digunakan juga harum. Wallahu A’lam
            Sudah maklum adanya bahwa kita banyak berkiblat ke Negara Yaman, karena Wali Songo semuanya berasal dari Hadramaut, Yaman. Tolong anda berikan sedikit cuplikan tentang maulid di Yaman khususnya di Hadramaut lebih-lebih di Tarim?
            Tidak diragukan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang ada di Indonesia memiliki hubungan, memiliki tangan-tangan yang menjulur pada tradisi-tradisi asli yang ada di Negara Iman dan Ishlah (berbuat baik. Red.) yaitu Yaman Al Maimun apalagi di Hadramaut yang menjadi tempat berdiamnya keluarga Ba ‘Alawy (para keturunan Rosulullah Muhammad SAW. Red.) semoga Allah meridloi mereka dan semoga Allah memberi kemanfaatan kepada kita sebab mereka. Dan tidak diragukan lagi bahwa yang membawa Islam ke Indonesia adalah keturunan Ba ‘Alawy yakni anak cucu Rosulullah SAW., maka dari itu tidak disangsikan bahwa orang-orang Indonesia melakukan kebiasaan-kebiasaan mereka (Ba ‘Alawy. Red.) yang di antaranya adalah pembacaan maulid. Ditambah lagi antara orang-orang Indonesia, orang-orang Jawa dengan orang-orang Hadramaut khususnya golongan Ali Ba ‘Alawy dan para Syekh seperti Syekh al Khothib, Syekh Ba Fadhl dan yang lainnya sering terdapat komunikasi dan lain sebagainya. Mereka menjelaskan tata cara maulid kepada kita (masyarakat Indonesia. Red.) namun terkadang sedikit ada penambahan-penambahan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang hendaknya meneliti kembali pada asal mula kedatangannya yakni Negara Yaman.
            Adapun di Negara Yaman sampai sekarang Alhamdulillah pembacaan maulid masih terus bergema di setiap masjid, rumah, pesantren dan universitas Islam yang berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Terutama Tarim, di setiap masjid, rumah, musholla terus dibacakan maulid yang menggunakan waktu-waktu bervariatif semisal pada malam Selasa di masjid Surur, Tarim dan di setiap malam Jum’at di Ribath Tarim (Ribath Qodim, pesantren asuhan Habib Salim bin Abdullah bin Umar as Syathiri. Red.), masjid Jami’ yang ada di Tarim dan begitu juga masjid-masjid lainnya. Terutama di pesantren yang sudah terkenal ke seluruh mancanegara yakni Darul Musthofa yang berada di bawah asuhan junjunganku Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz setiap malam Jum’at selalu dibacakan maulid, setelah itu diberikan nasehat dan mau’idzoh hasanah dari para ulama. Inilah kebiasaan mayoritas ahli Yaman yakni setelah dibacakan maulid kemudian didendangkan qosidah-qosidah yang indah setelah itu penceramah berdiri mengingatkan manusia terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
            Itu adalah sedikit cuplikan dari maulid yang biasa dilaksanakan setiap minggunya. Adapun maulid yang dilaksanakan pada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. yaitu bulan Robi’ul Awal mulai hari pertama sampai hari terakhir setiap harinya kira-kira tiga sampai sepuluh masjid di pagi, sore dan malam hari dibacakan maulid dengan tertib dan tenang. Ini adalah yang ada di Tarim dan lainnya. Adapun di sebagian daerah yang tidak menggunakan cara seperti demikian terkadang hanya sekali dibacakan maulid dalam sehari pada bulan Robi’ul Awal begitu juga untuk setiap minggu di selain bulan Robi’ul Awal yang dibaca pada setiap malam Jum’at. Wallahu A’lam
            Pertanyaan terakhir ustadz. Kalau begitu sudah jelas bahwa maulid memang disyari’atkan berlandaskan dalil-dalil dan pendapat para ulama. Kemudian, tolong anda berikan gambaran bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang mengingkari tentang disyari’atkannya maulid?
            Seperti yang telah saya sebutkan bahwasanya banyak sekali dalil yang menyatakannya (disyari’atkannya maulid. Red.). Dan maulid adalah suatu ungkapan rasa bahagia serta menampakkan kebahagiaan kita atas wujudnya Nabi Muhammad SAW. Kita diperintahkan untuk membaca sejarah hidup, peperangan, tingkah laku, budi pekerti Beliau dan diperintah untuk menyebarkan sifat-sifat,  perangai-perangai Beliau dan kita juga diperintahkan untuk mengikuti Beliau serta memperbanyak sholawat kepada Beliau. Semuanya ini disebutkan dan ditemukan dalam maulid.
Tetapi mungkin sebagian orang jengkel dengan nama ini (maulid. Red.). Okelah kita tidak mengatakan maulid tapi belajar sejarah Nabi Muhammad SAW. dan menuturkan akhlak-akhlak Beliau SAW. Maka kita mengumpulkan orang-orang karena sebagian dari mereka tidak memiliki waktu cukup untuk belajar sehingga mereka datang setiap seminggu sekali atau satu bulan sekali untuk menyimak akhlak-akhlak Nabi Muhammad SAW., dan saya tidak akan mengira bahwa seseorang yang mempunyai Iman sekecil apapun akan mengingkari amal mulia tersebut yang pada hakikatnya adalah menuturkan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW., menyebarkan akhlak-akhlak Beliau, memberikan siraman rohani dan bersholawat pada Beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.
Merupakan kemuliaan yang sangat agung jika kita mau duduk di suatu tempat untuk bersholawat pada Nabi Muhammad SAW. karena banyak sekali hadits yang mendasari tentang keutamaan bersholawat pada Nabi Muhammad SAW. dan keutamaan dzikir pada Allah SWT. Dan apakah sholawat pada Nabi Muhammad SAW. bukan merupakan dzikir pada Allah SWT.??? Jelas itu adalah dzikir pada Allah SWT. Allah telah memerintah kita untuk dzikir padaNya baik secara individu atau kolektif seperti yang telah tercantum dalam sebuah hadits bahwasanya suatu ketika Rosulullah SAW. keluar kemudian Beliau melihat ada dua halaqoh di masjid yaitu halaqoh dzikir dan halaqoh ilmu. Setelah Beliau duduk di halaqoh ilmu. Duduknya Nabi bersama halaqoh ilmu tidak bisa diambil kesimpulan bahwa halaqoh dzikir tidak sesuai dengan rel syara’…!!! Pengakuan dan duduknya Beliau di masjid merupakan bukti terhadap kebolehan untuk dzikir kepada Allah (secara berkelompok. Red.).
Pada pembahasan itu banyak sekali hadits yang menerangkannya seperti hadits yang menerangkan pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW. mengumpulkan para sahabat dan Beliau bersabda “Apakah ada orang asing di antara kalian?” yakni orang ahli kitab (Yahudi atau Nasrani yang masih memegang ajaran Taurot atau Injil yang asli. Red.) para sahabat menjawab “Tidak ada” Beliau bersabda “Angkat tangan kalian dan katakan ‘Laa Ilaaha Illallah’ tiga kali”. Ini adalah perintah Nabi Muhammad SAW. pada kita untuk berdzikir secara berjamaah.
Di dalam al Qur’an juga disebutkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا ...( الأحزاب 56 ) الأية
“Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kalian.
Pada ayat itu terdapat kata perintah yang menggunakan bentuk Jama’ (memiliki arti banyak. Red.). Andaikan Allah menghendaki arti tunggal maka Allah akan berfirman “Setiap orang harus bersholawat dan menghaturkan salam kepada Nabi Muhammad”. Tetapi ayat itu menggunakan bentuk Jama’ maka kita bisa bersholawat pada Nabi Muhammad SAW. secara individu ataupun berkelompok.
            Dan juga kita tidak memaksa manusia untuk membaca maulid tapi kita minta agar orang-orang yang tidak  taslim atau tidak clear dengan kita (dalam masalah ini khususnya. Red.) agar lebih bisa menjaga lisan mereka untuk tidak bersikap ceroboh atau kelewatan jika kita mencetuskan hal-hal positif seperti demikian, karena dikhawatirkan mereka telah bertingkah amoral terhadap Nabi Muhammad SAW. dipandang dari aspek bahwa mereka telah melarang umat Muhammad SAW. untuk memanjatkan sholawat untuk Nabinya meskipun mereka (orang-orang tersebut. Red.) tidak mengetahui, mereka tidak mengatakan “Kita tidak melarang mereka untuk bersholawat pada Nabi SAW., tapi kita mencegah mereka untuk melakukan hal yang berbau bid’ah ini. Terutama apa yang telah terjadi di sebagian tempat”.
            Okelah. Memang di sebagian tempat terkadang terjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan atau mungkin ada hal-hal yang kurang pantas kadang terjadi di majlis-majlis seperti demikian. Menanggapi hal demikian yang harus atau hendaknya kita ingkari adalah percampuran atau hal-hal lain yang terjadi di dalam maulid, bukan maulid itu sendiri yang perlu kita ingkari. Jika ada seseorang bersholawat pada Nabi Muhammad SAW. tetapi sholawat yang ia ucapkan tidak baik (mungkin dikarenakan ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kode etik dalam bersholawat. Red.) apakah kita melarang dia untuk bersholawat atau melarang apa yang ia lakukan dalam sholawat? Andaikan kita mencegah dia untuk bersholawat maka jelas kita keliru begitu juga jika kita biarkan dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai kode etik bersholawat, tapi kita perlu merubah sesuatu yang ia lakukan dalam sholawatnya. Wallahu A’lam

 
Toggle Footer